Mahija Parahita Nusantara dan Coca‑Cola Indonesia
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan
dalam Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional
Sinergi Transformasi Sampah Organik Menjadi Aset Ekonomi serta Penyaluran Paket Ramadan bagi Komunitas Sektor Informal
13-02-2026
Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Yayasan Mahija Parahita Nusantara (Mahija) bersama Coca‑Cola Indonesia menegaskan kembali komitmen untuk memperkuat sektor persampahan informal di Indonesia melalui peningkatan keterampilan, martabat, dan peluang ekonomi bagi para pekerja pengelola sampah berbasis komunitas. Bertempat di proyek percontohan Recycle Me Zone di Duren Sawit, Jakarta Timur, kedua mitra memperkenalkan program pengembangan yang mengintegrasikan pengelolaan sampah organik sebagai jalur baru menuju ketahanan ekonomi bagi para pekerja sektor informal—yang kerap disebut sebagai pejuang daur ulang—yang berada di garda terdepan pelestarian lingkungan.
Selama bertahun-tahun, para pekerja ini berperan penting dalam upaya daur ulang lokal, khususnya melalui pengumpulan botol plastik PET. Menyadari kebutuhan akan sumber penghasilan yang lebih beragam dan berkelanjutan, program ini kini membekali para peserta dengan keterampilan untuk mengelola berbagai jenis aliran sampah. Dengan demikian, mereka dapat bertransformasi dari pengumpul satu jenis material menjadi wirausahawan lingkungan berbasis komunitas.
“Visi kami adalah memperkuat posisi pekerja dalam rantai pasok daur ulang melalui praktik yang bertanggung jawab, perlindungan, dan peningkatan kapasitas,” ujar Ardhina Zaiza, Ketua Yayasan Mahija Parahita Nusantara. “Dengan mempelajari cara mengolah sampah organik menjadi kompos serta pakan ternak alternatif yang diproduksi secara lokal dari limbah organik, mereka tidak hanya berkontribusi pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi rumah tangga dan penghidupan mereka.”
Proyek percontohan Recycle Me Zone memanfaatkan pendanaan dari Program Recycle Me untuk memberikan pelatihan intensif dan aplikatif dalam pengolahan sampah organik. Melalui inisiatif ini, para peserta memperoleh kemampuan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi, seperti kompos dan pakan ternak lokal, yang turut membantu mengurangi sampah.
Program ini juga bertujuan memperkuat kapasitas komunitas melalui pembelajaran pengelolaan keuangan usaha, termasuk strategi penetapan harga dan pembagian keuntungan. Hal ini bertujuan agar para peserta lebih siap dalam mengelola pendapatan, merencanakan masa depan, serta menjaga kemandirian ekonomi.
“Pekerja sektor informal persampahan memiliki peran penting dalam memperkuat sistem daur ulang di tingkat lokal,” ujar Triyono Prijosoesilo, Senior Director Public Affairs, Communications, and Sustainability, PT Coca‑Cola Indonesia. “Melalui kemitraan seperti ini, kami ingin mendukung peluang yang lebih luas guna meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan ekonomi jangka panjang.”
Dukungan Komunitas Selama Ramadan
Seiring dengan program pengembangan keterampilan tersebut, Mahija dan Coca‑Cola Indonesia juga memberikan dukungan kepada masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi lokal selama bulan Ramadan. Inisiatif ini mencakup penyaluran Paket Ramadan yang berisi bahan makanan pokok untuk membantu keluarga selama masa berpuasa. Selain itu, diselenggarakan pula kegiatan Buka Puasa Bersama guna menumbuhkan kebersamaan serta mempererat ikatan antara para pejuang daur ulang dan komunitas sekitarnya.
“Ramadan merupakan momen penting bagi penguatan kebersamaan di Indonesia. Kami ingin para pejuang daur ulang merasakan solidaritas dan apresiasi dari komunitas yang mereka layani,” tambah Triyono.
Program Ramadan Berbagi akan menyalurkan total 1.100 paket kebutuhan pokok dan 3.300 paket makanan yang dibagikan setiap hari Jumat selama bulan Ramadan di 36 titik lokasi penerima manfaat di sekitar Collection Center dan Collection Partner yang bekerja sama dengan Mahija. Kegiatan ini menjadi ruang bagi para pekerja sektor informal persampahan untuk berbuka puasa bersama, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dan saling mendukung.
Menutup rangkaian kegiatan, Ardhina menegaskan makna lebih luas dari inisiatif ini: “Upaya yang kita lihat hari ini menunjukkan bahwa penguatan komunitas dan praktik pengelolaan yang bertanggung jawab harus berjalan beriringan. Dengan kolaborasi yang konsisten, perubahan dapat tumbuh dari tingkat lokal dan memberi dampak yang lebih luas.”
***
Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:
Beryl Masdiary | Kunti Roostapati Image Dynamics Kunti@imagedynamics.co.id Mobile: 0856 158 1007 |
Tentang Yayasan Mahija Parahita Nusantara
Yayasan Mahija Parahita Nusantara (Mahija) didirikan pada tahun 2020 melalui kolaborasi industri untuk memperkuat rantai pengumpulan PET di Indonesia. Bersama dengan partner pabrik daur ulang, Mahija memastikan aliran PET pascakonsumsi dapat dikumpulkan dengan baik dan diolah kembali secara bertanggung jawab, utamanya melalui proses bottle-to-bottle yang mengembalikan botol PET menjadi botol baru. Mahija hadir sebagai jembatan antara pekerja informal dengan sistem pengelolaan sampah yang semakin terorganisasi. Melalui pendekatan sosial, teknis, dan kemitraan lintas sektor, Mahija memastikan proses pengumpulan PET berlangsung lebih aman, lebih rapi, dan lebih inklusif. Sampai dengan tahun 2024, Mahija telah memberdayakan lebih dari 37.000 pekerja sampah di Jabodetabek dan daerah lainnya di Indonesia melalui berbagai program reguler dan kemitraan strategis. Seiring berkembangnya ekosistem daur ulang nasional, Mahija terus membangun kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, pekerja informal, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Tentang Coca‑Cola Indonesia
Coca‑Cola pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1927 dan mulai diproduksi secara lokal pada tahun 1932. Sejak dekade 1960-an, berbagai produk The Coca‑Cola Company telah hadir di pasar Indonesia, antara lain SPRITE pada tahun 1961, FANTA pada tahun 1973, Diet Coke pada tahun 1986, Frestea pada tahun 2002, Coca‑Cola Zero dan Minute Maid Pulpy pada tahun 2008, serta Nutriboost pada tahun 2014. Pada tahun 2002, Coca‑Cola mengakuisisi merek air minum dalam kemasan lokal, Ades. Saat ini, produk Coca‑Cola diproduksi di lima fasilitas produksi di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.coca-cola.co.id atau ikuti akun Twitter @CocaCola_ID di twitter.com/CocaCola_ID.